Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin
Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.
Tampilkan postingan dengan label Shahabat kalangan laki-laki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shahabat kalangan laki-laki. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 April 2015
Shahabat Zaid al-Khair
Diceritakan dalam buku-buku sastra. Imam Syaibani menceritakan
dari seorang tua Bani ‘Amir, katanya : “Pada suatu ketika kami dapat musibah
mengalami kemarau sehingga tanaman dan ternak kami binasa. Seorang laki-laki
diantara kami pergi dengan keluarga ke Hirah lalu ditinggalkannya keluarganya
disana. Katanya, ‘Tunggu aku di sini sampai aku kembali!’”
Sabtu, 11 April 2015
Shahabat Usamah bin Zaid
Tahun ketujuh sebelum hijrah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wassalam. sedang susah karena tindakan kaum Qurasy yang menyakiti beliau dan
para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa
harus bersabar. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar
memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan
kepada beliau, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah
Rasulullah berseri-seri karena gembira menyambut berita tersebut.
Shahabat 'Umair Bin Sa’ad
Umair Bin Sa’ad Al Anshary, telah merasa hidup yatim dan miskin
sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan
yang mencukupi. Tetapi untunglah ibunya segera kawin kembali dengan seorang
laki-laki kaya dari suku Aus, Al Julas bin Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh
Julas dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya. Sejak itu ‘Umair menemukan
jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas-kasih, sehingga
‘Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
Shahabat Uqbah bin ‘Amir Al Juhani
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tiba di pinggir kota Madinah sesudah
lama menanggung luka. Penduduk Madinah berdesak-desakan di jalan-jalan dan di
loteng-loteng rumah, menyambut kedatangan beliau, sambil mengucapkan tahlil dan
takbir, menunjukkan kegembiraan mereka bertemu dengan Rasulullah dan sahabatnya,
Abu Bakar Shiddiq. Gadis-gadis remaja keluar membawa rebana, dengan pandangan
mata penuh kerinduan sambil menyanyikan lagu merdu :
Shahabat Thufeil bin ‘Amr Ad-dausi
Ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi merupakan pemimpin kabilah Daus pada masa
Jahiliah. la juga salah seorang yang terpandang di kalangan Arab dan salah
seorang bangsawan yang berwibawa. Api dapurnya selalu mengepul dan jalan selalu
terbuka untuknya. Ia senang memberi makan orang yang lapar, melindungi orang
yang takut, dan memberi upah para pekerja. Di samping itu, ia juga seorang yang
sopan, cerdas, dan pintar, penyair yang halus perasaannya, jelas, dan manis
perkataannya. Seolah-olah kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya seperti
sihir.
Shahabat Sa’id bin Zaid
Zaid bin Amr bin Nufail berdiri di tengah-tengah orang banyak yang
berdesak-desakan menyaksikan kaum Qurays berpesta merayakan salah satu hari
besar mereka.
Shahabat Sa’id bin Amir al-Jumahi
Sa’id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia,
dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya. (Ahli
sejarah).
Shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash (Wafat 55 H)
Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan
julukan “Abu Ishaq”, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang
sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama
dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih
dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.
Shahabat Rabi’ah bin Ka’ab
Rabi’ah bin Ka’ab bercerita tentang riwayat hidupnya dalam
Islam. Katanya, “Dalam usia muda jiwaku sudah cemerlang dengan cahaya iman.
Hati kecilku sudah penuh berisi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama
kali aku berjumpa dengan Rasulullah , aku langsung jatuh cinta kepada beliau
dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat tertarik kepadanya, sehingga aku
berpaling kepada beliau seorang dari yang lain."
Shahabat Mu’adz bin Jabal (Wafat 18 H)
Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu
Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia
mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi
tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan
kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di
dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at
kepada Rasulullah.
Shahabat Muawwiyah bin Abi Sofyan (60 H)
Mu'awwiyah bin Abu Sofyan bin Harb bin Umaiah Al Qurasyi Al
Umawi adalah pendiri Daulat Umaiah di Suriah. Beliau lahir di Mekah dan
sempat memusuhi Islam dan akhirnya memeluk Islam ketika penaklukan kota Mekah (8
H). Beliau sempat belajar tulis baca dan matematika, sehingga Rasulullah
mengangkatnya menjadi juru tulisnya. Beliau bertugas di Suriah di masa
pemerintahan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan. Beliau menentanag Ali dan
berkonfrontasi dengan Ali dalam perang Shiffin (37 H/657 M) yang berakhir dengan
sebuah arbitrase. Beliau dinobatkan menjadi khalifah (40-60 H/661-680 M) di mana
ibu kota pemerintahan dia pindahkan ke Damaskus. Beliau termasuk tokoh penakluk
ternama dalam sejarah Islam, di mana penaklukannya sampai ke daerah di Lautan
Atlantik.
Shahabat Ja’f’ar bin Abi Thalib (Wafat 8 H)
Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim
ini masuk Islam dari sejak dini dan sempat mengikuti hijrah ke Abessinia, malah
sempat mempublikasikan Islam di daerah itu. Dalam perang Muktah beliau diserahi
menjadi pemegang bendera Islam, setelah tangan kanannya terpotong dia memegang
bendera dengan tangan kiri, namun tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga
dia memegang bendera itu dengan dadanya. Berbagai cobaan ditahankannya dalam
mengemban tugas ini, akhirnya beliau mati syahid di mana dalam tubuhnya terdapat
sekitar 90 goretan dan tembakan.
Shahabat Jabir bin Abdillah (Wafat 74 H)
Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 hadist,
Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran Al-Anshari as-Salami. Ia
bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua di antara
70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama
Islam, Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan pleh
Nabi, kecuali perang Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahku. Setelah
Ayahku terbunuh, aku selalu ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wassalam.
Shahabat Hudzaifah bin Yamman (Wafat 36 H)
Sahabat tokoh penaklukan ini banyak memegang rahasia-rahasia
Nabi. Khalifah Umar bin Khattab ra. mengangkatnya menjadi pemerinah di Madain.
Pada tahun 642 M, dia berhasil mengalahkan pasukan Persia dalam perang Nahawand,
kemudian dia mengikuti perang penaklukan Jazirah Arab dan akhirnya meninggal di
kota Madain.
Shahabat Hakim bin Huzam (Wafat 54 H)
Nama lengkapnya adalah Hakim bin Huzam bin Asad bin Abdul
Gazi, ponakan Khadijah istri Rasulullah . Sebelum dan setelah kenabian
beliau ini adalah teman akrab Rasulullah , sewaktu kaum Quraisy memboikot
Rasulullah, beliau tidak termasuk, karena menghormati Nabi. Beliau baru masuk
Islam ketika penaklukan kota Mekah dan terkenal sebagai orang yang banyak jasa
baik dan derma.
Shahabat Bilal bin Rabah Al Habasyi (Wafat 20 H)
Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan
aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus
diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap
penasaran untuk mendengarnya.
Shahabat Anas bin Malik (Wafat 93 H)
Anas bin Malik urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist,
Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits.
Shahabat Adi bin Hatim at-Tha’i (Wafat 68 H)
Nama lengkapnya adalah Adi bin Hatim bin Abdullah bin Saad bin Hasyraj
At-Thai, dijuluki dengan Abu Wahab dan Abu Tarif. Sahabat yang masuk Islam pada
tahun 9 H ini terkenal sebagai orator yang sangat pandai. Beliau adalah kepala
suku Thai baik pada masa jahiliah maupun masa Islam. Dia mempunyai jasa besar
dalam menumpas kaum murtad dan ikut serta dalam penaklukan Irak. Beliau
berdomisili di Kota Kufah dan wafat di sana.
Shahabat Abu Thalhah Al-Anshary
Zaid bin Sahal an-Najjary alias Abu Thalhah mengetahui bahwa
perempuan bernama Rumaisha binti Milhan an-Najjariyah, alias Ummu Sulaim, hidup
menjanda sejak suaminya meninggal. Abu Thalhah sangat gembira mengetahui Ummu
Sulaim merupakan perempuan baik-baik, cerdas, dan memiliki sifat-sifat perempuan
yang sempurna.
Langganan:
Postingan (Atom)